Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010

tEBU

A. Tebu

Bahan baku untuk memproduksi gula adalah tebu, yang merupakan salah satu tumbuhan terpenting di dunia karena dalam metabolismenya dapat mengakumulasi sukrose dan selama pertumbuhannya diubah menjadi glukose dan fruktose. Oleh karena itu, tumbuhan ini dapat menghasilkan energi bahan makanan dari energi matahari yang termurah dan dari areal yang relatif kecil. Tebu yang berbatang lunak di Asia Tenggara dan di daerah Pasifik sering dikonsumsi dengan jalan dihisap-hisap airnya dan membuang ampasnya. Tebu jenis ini sering juga diperas airnya untuk digunakan minuman segar air tebu (Sudarnadi, 1996).

Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90%, sisanya berupa tetes tebu atau ”molasse“ dan air. Daun tebu yang kering adalah biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Ibu-ibu di pedesaan sering memakai dadhok itu sebagai bahan bakar untuk memasak, selain menghemat minyak tanah yang makin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas. Dalam konversi energi pabrik gula, daun tebu dan juga ampas batang tebu digunakan untuk bahan bakar pemanas, yang uapnya digunakan untuk proses produksi dan pembangkit listrik (Anonymousa, 2007).

Tabel 1. Komposisi Tebu

KOMPONEN PROSENTASE
Sabut 12,5 %
Nira : 87,5 %
a. Air 65,6-70 %
b. Bahan kering : 17,5-21,8 %
1. Bahan terlarut 3,2-4,4 %
2. Bahan tidak terlarut 0,4-1,1 %

(Sumber : Anonim, 1992).

Advertisements

Read Full Post »

MIE PANGSIT

Tahap-tahap Proses Pembuatan Mie Pangsit

A. Mixing

Tahap pencampuran bertujuan agar hidrasi tepung dengan air berlangsung secara merata dan menarik serat-serat gluten. Untuk mendapatkan adonan yang baik harus diperhatikan jumlah penambahan air (28 – 38 %), waktu pengadukan (15-25 menit), dan suhu adonan (24-40 oC)

Hal-hal yang menentukan kualitas adonan dalam proses mixing :

a.  Jenis Terigu yang digunakan

Dalam proses pembuatan mie pangsit ini digunakan tepung terigu protein sedang.

b.  Lama Pengadukan

makin lama proses pengadukan maka percampuran semua bahan akan semakin merata. Akan tetapi pengadukan yang terlalu lama akan menyebabkan kekuatan jaringan untuk mengikat air berkurang.

c.  Kadar Air

adonan yang terlalu basah akan menyebabkan gelombang pada produk akhir mie lebih kecil-kecil, jika dibandingkan dengan hasil gelombang mie pada umumnya. Akan tetapi adonan yang terlalu kering akan berakibat sebaliknya, yaitu gelombang mie akan menjadi besar-besar.

d.  Jumlah Blade Pengaduk

Dengan makin banyaknya jumlah blade dalam pengaduk akan mempercepat proses pemerataan mixing.

e.  Jumlah Bahan

Makin banyak jumlah bahan, maka waktu untuk mixing semakin lama.

Mixing berfungsi mencampur secara homogen semua bahan. Mixing harus berlangsung hingga tercapai perkembangan optimal dari gluten dan penyerapan airnya. Dengan demikian pengadukan mie harus sampai kalis. Tanda-tanda adonan kalis adalah jika adonan tidak lagi menempel di alat mixer dan akan terbentuk lapisan tipis yang elastis saat adonan dilebarkan (Kim, 1996).

Mixing yang berlebihan akan merusak susunan gluten, suhu dalam adonan akan meningkat. Sebaliknya, bila mixing kurang dapat menyebabkan adonan mejadi kurang elastis, volume mie menjadi kurang optimal dan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Proses mixing juga bergantung pada alat yang digunakan, kecepatan pencampuran, penyerapan dari gluten dan formulasi yang digunakan pada adonan mie tersebut (Mudjiayanto dan Yulianti, 2004).

B. Pelempengan / Pemipihan

Pelempengan atau pengepressan bertujuan membuat pasta menjadi bentuk lembaran yang siap dipotong menjadi bentuk khas mie. Fungsi lainnya dari proses pelempengan yaitu supaya proses gelatinisasi pati yang tejadi pada proses pengukusan dapat berjalan bersamaan dan merata (Kim, 1996).

Mie yang dipress sebaiknya tidak bersuhu rendah yaitu kurang dari 25 oC, karena pada suhu tersebut menyebabkan lembaran pasta pecah-pecah dan kasar. Mutu lembaran pasta yang demikian akan menghasilkan mie yang mudah patah. Tebal akhir pasta sekitar 1,2 – 2 mm. Proses pelempengan melalui 6 tahapan pemipihan, pada roll pertama tebal mie 2-3 cm, adonan terus melewati roll yang mana makin ke ujung tebal adonan makin tipis

Faktor yang mempengaruhi pressing adalah kerenggangan roll press. Lembaran adonan akan mengalami perenggangan pada saat pressing dan akan terjadi relaksasi pada saat keluar dari roll press. Supaya perenggangan dan relaksasi dapat terbentuk dengan baik, maka jarak kerenggangan  roll harus diatur sedemukian rupa sehingga merata diseluruh permukaan roll. Selain itu kecepatan putaran roll harus diatur agar sama sehingga tidak terjadi penarikan, penumpukkan ataupun adonan yang menggelambir ketika melewati atau menuju roll press yang selanjutnya.

C. Perajangan / Slitting

Di akhir proses pembentukan lembaran, lembar adonan yang tipis dimasukkan dalam mesin pencetak mie dipotong memanjang dengan rool pemotong mie dan akan terbentuk pilinan atau rajangan yang kecil dan memanjang.

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mie pangsit, dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini. Sedangkan gambar bahan-bahan yang digunakan dapat dilihat pada   Lampiran 1.

  1. 1. Tepung Terigu

Tepung yang digunakan dalam pembuatan mie pangsit  ini menggunakan tepung terigu  yang memiliki kandungan protein sedang agar mie menjadi elastis dan tahan terhadap penarikan sewaktu proses produksi. Tepung terigu berfungsi membentuk struktur mie, sumber protein dan karbohidrat. Kandungan protein utama tepung terigu yang berperan dalam pembuatan mie adalah gluten.

  1. 2. Tepung Tapioka

Pada pembuatan mie pangsit ini menggunakan tepung tapioka sebagai pemoles setelah mie pangsit sudah jadi. Hal ini dilakukan agar antar permukaan mie tidak lengket / menjadi satu kembali. Tepung tapioka mengandung  17% amilosa dan 83% amilopektin. Penggunaan tepung jenis ini disukai oleh pengolah makanan karena tidak mudah menggumpal, memiliki daya perekat yang tinggi sehingga pemakaianya dapat dihemat, tidak mudah pecah atau rusak, dan suhu gelatinisasinya rendah (Fennema, 1990).

  1. 3. Garam

Garam pada pembuatan mie pangsit di gunakan sebagai penambah rasa dan sebagai pengawet. Penambahan garam dapur(NaCl) disamping memberikan rasa pada mie juga untuk memperkuat tekstur,membantu reaksi gluten dan karbohidrat dalam mengikat air (Winarno dan Rahayu, 1994).

Garam (NaCl) terjadi dari air laut yang memiliki salin yang cukup tinggi yang kemudian terevaporasi membentuk endapan garam. Di Indonesia garam diproduksi dengan cara mengalirkan air laut ke petakan-petakan dan ditampung. Akibat terik matahari air tersebut menguap dan akhirnya menyisakan garam waluapun masih berkualitas rendah (Anonymousa, 2010).

  1. 4. Air

Air yang digunakan dalam pembuatan mie pangsit ini adalah air alkali dimana fungsi dari air alkali itu sendiri adalah untuk mempercepat terjadinya gelatinisasi. Komposisi dari air alkali yaitu terdiri dari garam, pewarna tartazine CI 19140, poliphosfat, potassium karbonat dan sodium karbonat.

  1. 5. Soda

Soda digunakan pada pembuatan mie pangsit sebagai pembentuk gas. Adanya gas yang terperangakap pada gluten dapat membuat adonan mie mengembang, Sifat fisik itulah yang menjadikan mie dapat cepat matang (rehidrasi).

  1. 6. Pewarna Makanan Tartazin

Tartrazin (dikenal juga sebagai E102 atau FD&C Yellow 5) adalah pewarna kuning lemon sintetis yang umum digunakan sebagai pewarna makanan. Tartrazin merupakan turunan dari coal tar, yang merupakan campuran dari senyawa fenol, hidrokarbon polisiklik, dan heterosklik. Karena kelarutannya dalam air, tartrazin umum digunakan sebagai bahan pewarna minuman. Absorbansi maksimal senyawa ini dalam air jatuh pada panjang gelombang 427±2 nm.

  1. 7. Natrium Benzoat

Natrium benzoat berupa serbuk putih, tidak berbau dan stabil di udara. Zat ini larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol. Kelarutan dalam air pada suhu 25°C sebesar 660gr/L dengan bentuk yang aktif sebagai pengawet sebesar 84,7% pada range pH 4,8 (Cahyadi, 2006).

4.1.1.2 Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam proses produksi mie pangsit  di UKM pembuatan mie pangsit “Wahyu Agung” meliputi meja, timbangan, pisau, telenan, kompor, kompor LPG, mixer, dan baskom.Untuk penjelasan fungsi dari masing-masing alat  dapat dilihat pada penjelasan tabel 1 berikut ini. Sedangkan gambar peralatan yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran 2.

Tabel 1. Daftar peralatan produksi beserta penjelasannya

No Nama Alat Fungsi
1 Meja Tempat persiapan produksi serta pembuatan mie pangsit
2 Timbangan Mengukur berat bahan dengan tepat dan akurat
3 Pisau Memotong bahan menjadi ukuran yang lebih kecil.
4 Kompor LPG Kompor LPG digunakan untuk menyangrai tepung tapioka agar tidak menggumpal.
5 Wajan Wadah saat menyangrai tepung tapioka.
6 Sendok Mengambil bahan-bahan yang diperlukan seperti cake emulsifier, garam, soda dll.
7 Spatula plastik pegadukan adonan
8 Baskom Wadah mencampur bahan-bahan.

Read Full Post »

teknik pembotolan

Teknik Pembotolan (Bottling)

Pengemasan didesain atau dirancang sedemikian rupa untuk melindungi produk dari kerusakan dan untuk menjual produk lengkap dengan wadah atau kemasan yang digunakan. Salah satu bentuk bahan yang digunakan adalah botol, di dalam industri pengolahan pangan skala besar biasanya diperlukan proses pengemasan secara mekanis untuk mendapatkan teknik pengemasan yang efisien.

1.5.1      Tahapan Pembotolan

  1. Memasukkan Botol kosong dalam alat (bottle feeding)

Sebelum botol-botl kosong masuk dalam pengisian,maka botol kosong dimasukkan dalam botol feeder secara tidak beraturan atau diletakkan begitu saja tanpa ditata dan diatur posisinya.Keluar dari bottle feeder maka posisi botol akan berdiri satu-persatu dan tidak saling menumpuk.

  1. Pembersihan Botol (Bottle Cleaning)

Pembersihan botol dapat dilakukan secara manual satu persatu, tapi untuk industri makanan skala besar hal itu tidak mungkin dilakukan. Pencucian botol dilakukan dengan bottle washer yang dilengkapi dengan sikat elektrik.

  1. Pengisian (Filling)

Pengisian produk menggunakan teknik Vacuum Filling (pengisian produk hampa udara). Teknik pengisian ini adalah teknik pengisian paling bersih dan yang paling murah untuk berbagai jenis produk. Teknik ini mampu mendeteksi botol yang retak, botol yang sumbing, atau botol bocor. Disamping itu pengisian dengan teknik filling vacuum dapat menekan kehilangan produk dan

mencegah adanya tetesan produk yang dapat memberikan kesan kotor.

  1. Penutupan botol

Penutupan botol hendaknya dilakukan secara hermetis (rapat), seperti penutupan botol untuk mengemas produk jam, jelly, sari buah dan hasil olahan lainnya yang diolah dengan  suhu tinggi. Tujuan penutupan secara hermetis yaitu untuk mencegah produk dari kerusakan, terutama kerusakan yang disebabkan oleh mikroba. Keadaan hermetis akan tercapai jika tutup botol dengan bagian luar mulut botol dalam kondisi baik.

Read Full Post »

  1. a (Robetson 1993).

Penentuan Umur simpan

Perlakuan selamam proses dan distribusi serta pengaruh kondisi lingkungan dapat menyebabkan penurunan dan kerusakan produk pangan. Akibatnya makanan tersebut tidak dapat diterima karena membahayakan konsumen,oleh karena itu kinetika penurunan mutu sangat penting dala menentukan evaluasipenentuan umur simpan suatu produk. Pemilihan model yang tepat untuk menhyatakan penurunan mutu harus ditetapkan dulu dalam penentuan umur simpan. Setelah itu ditetapkan parameter penyebab kerusukan fisik, kimia dan mikrobiologis (Theodore and Labuza, 2000).

Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan umur simpan produk makanan.

  1. Studi Literatur

Penetapan umur simpan dip[eroleh dari literatur yang analog dengan produk tersebut. Berdasarkan asumsi bahwa produk yang mempunyai proses produksi yang sama akan menghasilkan umur simpan yang hampir sama.

  1. 2. Turnover Time

Jangka waktu produk selama berada di rak penjual sehingga konsumen memperkirakan sendiri berapa lama umur simpannya. Ini tidak menunnjukkan umur simpan yang sebenarnya, tapi hanya umur dimpan yang dibutuhkan. Ini diasumsikan bahwa produk masih dapat diterima untuk beberapa waktu tertentu berada di penjual.

  1. 3. End Point Study

Produk diambil secara random sampling dari penjual eceran kemudia di tes di laboratorium untuk dianalisa kualitasnya. Dari sinilah umur simpan dapat ditetapkan karena produk sudah mengalami perlakuan selam penyimpanan dan penjualan.

  1. 4. Acelerated Shelf Life Testing

Penerapan umur simpan dengan mempercepat kerusakan produk yaitu dengan mengkondisikan produk di luar kondisi normal dengan tujuan untuk menentukan laju reaksi kerusakannya. Setelah laju reaksi penurunan mutu diketauhi, umur simpan dapat ditentukan dengan persamaan kinetika reaksi (Robetson, 1993).

  1. 5. Metode Konvensional

Metode ini dilakukan dengan menyimpan produkpada tempat penyimpanan melalui uji organoleptik untuk mengetauhi batas penerimaan panelis. Pengamatan dihentikan sampai perubahan yang terjadi menunjukkan penurunan mutu sehingga produk tidak layak dikomsumsi (Arpah dkk., 1999).

  1. Metode diagram Isohidrik, Isokronikdan Isokronik Penyimpanan

Metode ini digunakan untuk biji-bijian dan serealia dengan menggambarkan diagram Isohidrik, Isotermik dan Isokronik. Diagram-diagram tersebut dibuat hasil percobaan empiris yan memerlukan waktu yang lama. Untiuk dapat membuat diagram tersebut harus ditentukan dulu salah satu faktor mutu yang menjadi tolak ukur. Misalnya susut bahan kering karena respirasi, kontaminasi jasad renik (kapang), asam lemak bebas dan viabilitas benih (syarif dan Halid, 1993).

Read Full Post »

wanus

(PANCASILA PUNYA)

WAWASAN KEBANGSAAN

A. Deskripsi

Wawasan kebersamaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk kebersamaan dalam mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi. Wawasan kebangsaan kita dimulai sejak timbulnya kesadaran kebangsaan yaitu sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Gerakan kebangsaan Boedi Oetomo tersebut kemudian dengan cepat berkembang dan meluas sehingga menghasilkan sumpah pemuda pada tahun 1982 dan akhirnya sampailah pada puncaknya dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia banyak mengalami aksi-aksi pemberontakan dan juga aksi-aksi kekerasan dan brutal, sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Adanya aksi-aksi tersebut menunjukkan betapa pentingnya bangsa Indonesia memelihara semangat, meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang Wawasan Kebangsaan.

B. Pengertian

Wawasan berasal dari pangkal kata wawas plus akhiran an. Wawas mempunyai arti pandang, sedangkan Wawasan berarti cara memandang, cara meninjau, cara melihat, cara tanggap inderawi. Dalam arti luas, wawasan adalah cara pandang yang lahir dari keseluruhan kepribadian kita terhadap lingkungan sekitarnya, dan bersumber pada falsafah hidup suatu bangsa, sifat nya adalah subyektif. Bangsa adalah suatu persatuan karakter atau perangai yang timbul karena persatuan nasib dan kesatuan tekad dari rakyat untuk hidup bersama, mencapai cita-cita dan tujuan bersama terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama, ataupun golongan asalnya. Kesadaran kebangsaan adalah perekat yang akan memikat batin seluruh rakyat. Dari definisi ini, nampak bahwa bangsa adalah sekelompok manusia yang :

a. Memiliki cita-cita bersama yang mengikat mereka menjadi kesatuan.

b. Memiliki sejarah hidup bersama, sehingga tercipta rasa senasib sepenanggungan.

c. Memiliki adat, budaya, kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama.

d. Memiliki karakter, perangai yang sama yang menjadi pribadi dan jati diri.

e. Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah.

f. Terorganisir dalam suatu pemerintah berdaulat, sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum.

C. Konsepsi Kebangsaan Indonesia

Konsep kebangsaan merupakan hal yang sangat mendasar bagi  bangsa Indonesia. Dalam kenyataannya konsep kebangsaan itu telah dijadikan dasar negara dan ideologi nasional yang terumus di dalam Pancasila sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD  1945. Konsep kebangsaan itulah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Ada sementara kalangan berpendapat, bahwa konsep kebangsaan Indonesia itu asalnya dari Barat, yang lazim disebut nasionalisme. Hal ini tidak semuanya benar, tetapi kita akui bahwa ada elemen-elemen dari Barat yang mempengaruhi maupun membentuk konsep kebangsaan yang dianut bangsa Indonesia. Dorongan yang melahirkan kebangsaan kita bersumber dari perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan, memulihkan martabat kita sebagai manusia. Wawasan kebangsaan Indonesia menolak segala diskriminasi suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial. Konsep kebangsaan kita bertujuan membangun dan mengembangkan persatuan dan kesatuan. Dalam zaman kebangkitan nasional 1908 terjadi proses bhineka tunggal ika. Berdirinya Boedi Oetomo telah mendorong terjadinya gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi yang sangat majemuk, baik di pandang dari tujuan maupu dasarnya. Dengan Sumpah Pemuda, gerakan Kebangkitan Nasional, khususnya kaum pemuda berusaha memadukan kebhinnekaan dengan ketunggalikaan. Kemajemukan, keanekaragaman seperti suku bangsa , adat istiadat, kebudayaan, bahasa daerah, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetap ada dan dihormati. Wawasan kebangsaan Indonesia tidak mengenal adanya warga negara kelas satu, kelas dua, mayoritas atau minoritas. Hal ini antara lain dibuktikan dengan dipergunakannya bahasa jawa sebagai bahasa nasional tetapi justru bahasa melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia. Derasnya pengaruh globalisasi, bukan mustahil akan memporak porandakan adat budaya yang menjadi jati diri suatu bangsa dan akan melemahkan paham nasionalisme. Paham nasionalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa loyalitas tertinggi terhadap masalah duniawi dari setiap warga bangsa ditunjukan kepada negara dan bangsa. Meskipun dalam awal pertumbuhan nasionalisme diwarnai oleh slogan yang sangat terkenal, yaitu : liberty, equality, fraternality, yang merupakan pangkal tolak nasionalisme yang demokratis, namun dalam perkembangannya nasionalisme pada setiap bangsa sangat diwarnai oleh nilai-nilai dasar yang berkembang dalam masyarakatnya masing-masing, sehingga memberikan ciri khas bagi masing-masing bangsa. Bagi bangsa Indonesia, untuk memahami bagaimana wawasan kebangsaan perlu memahami secara mendalam falsafah Pancasila yang mengandung nilai-nilai dasar yang akhirnya dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku yang bermuara pdaterbentuknya karakter bangsa.

D. Wawasan kebangsaan dan Tantangannya

Ada beberapa keprihatinan dari kalangan cendekiawan maupun tokoh masyarakat yang patut kita catat berkaitan dengan wawasan kebangsaan ini. Pertama, ada kesan seakan-akan semangat kebangsaan telah mendangkal atau terjadi erosi terutama di kalangan generasi muda. Kedua, ada kekhawatiran ancaman disintegrasi kebangsaan. Ketiga, ada keprihatinan adanya upaya untuk melarutkan pandangan hidup bangsa ke dalam pola pikir yang asing untuk bangsa kita.

E. Peningkatan kualitas pengalaman Wawasan Kebangsaan

Pengalaman menunjukan, bahwa kesadaran kebangsaan itu perlu selalu dipupuk, dikembangkan, dimasyarakatkan, dibudidayakan serta didukung oleh institusi politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa atau negara-negara lain, baik yang telah mewujudkan kesadaran kebangsaan yang mantap maupun yang masih harus bergulat dengan prakondisi awal terbentuknya bangsa itu, sehingga bisa mengambil sisi positif dan

menghindari sisi negatifnya. Hasrat yang sangat kuat untuk kebersamaan itu tidaklah timbul sendiri dan sekali timbul memerlukan perawatan seksama untuk mengimbangi kecendrungan sentrifugal, baik dari dalam maupan luar negeri. Wawasan kebangsaan memiliki tiga dimensi yang harus dihayati seluruhnya agar tumbuh kesadaran berbangsa yang bulat dan utuh.

Ketiga dimensi itu adalah : (a) rasa kebangsaan ; (b) paham kebangsaan ; (c) dan semangat kebangsaan.

Sejarah nasional kita menunjukkan, bahwa nasionalisme pertama kalinya memang tumbuh dari kesadaran tentang persamaan nasib di bawah kolonialisme. Kebersamaan, yang merupakan ciri khas kebangsaan juga harus merupakan realita yang hidup pada saat ini. Perasaan kebangsaan bukanlah sekedar konsep abstrak, tetapi harus di dukung oleh realita sosial. Namun, persamaan kepentingan hari ini terlalu bersifat sementara untuk menjadi andalan yang kuat bagi kesinambungan perasaan bangsa. Diperlukan suatu wawasan bersama ke masa depan yang jauh, yang akan menjadi pembimbing bagi kebersamaan itu. Suatu bangsa yang ingin berdiri kokoh, kelihatannya harus memelihara kesadaran yang kuat tentang sejarah pergerakan kebangsaannya di masa lampau, lembaga-lembaga kebersamaan di hari ini, serta visi masa depan yang ingin dicapai bersama.

Rasionalisasi rasa kebangsaan dan wawasan kebangsaan akan melahirkan paham kebangsaan atau nasionalisme. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan tersebut secara bersama akan menumbuhkan semangat kebangsaan yang merupakan tekad sejati seluruh masyarakat bangsa itu untuk membela dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara.

Setelah kita ungkapkan berbagai hal tersebut, maka wawasan kebangsaan kita harus ditunjukkan dengan wujud baru namun tetap mengacu kepada jiwa Pembukaan UUD 1945 yang menetapkan dasar dan tujuan kemerdekaan kebangsaan Indonesia. Wawasan kebangsaan Indonesia adalah wawasan yang memiliki landasan spiritual, moral dan etik, karena itu bersilakan Ketuhanan Yang Maha Esa. Wawasan kebangsaan Indonesia tidak menempatkan bangsa kita di atas bangsa lain, tetapi menghargai harkat dan martabat kemanusiaan serta hak dan kewajiban asasi manusia, karena itu wawasan kebangsaan kita mempunyai unsur kemanusiaan yang adil dan beradab yang mengakui adanya nilai-nilai universal kemanusiaan. Sebagai bangsa yang majemuk tetapi satu dan utuh, wawasan kebangsaan Indonesia jelas bersendikan persatuan dan kesatuan bangsa. Pandangan ini kemudian kita tuangkan dan mantapkan dalam Wawasan Nusantara.

Wawasan kebangsaan Indonesia berakar pada asas kedaulatan yang berada ditangan rakyat. Oleh karena itu wawasan kebangsaan Indonesia adalah paham demokrasi yang bertentangan dengan paham totaliter. Wawasan kebangsaan  kita mencita-citakan perwujudan masyarakat adil dan makmur karena dituntun oleh sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Wawasan kebangsaan harus mampu menjawab tantangan dan peluang yang terbuka di hadapan kita. Untuk menjawab berbagai tantangan yang timbul bangsa Indonesia menggunakan pendekatan atau sudut pandang, yang akhirnya berkembang menjadi sudut pandang atau pola pikir falsafah Pancasila. Sudut pandang tersebut adalah : (a) Monodualistik dan monopluralistik ; (b) Keselarasan, keserasian, keseimbangan ;

(c)Integralistik, kebersamaan ; dan (d) kekeluargaan. Monodualistik adalah suatu paham yang menganggap bahwa hakekat sesuatu adalah merupakan dua unsur yang teriakat menjadi satu kebulatan. Dalam memandang manusia menurut paham monodualis, maka : (a) manusia adalah makhluk Tuhan yang mengadakan hubungan serasi antara pencipta dan ciptaannya : (b) manusia terdiri atas unsur jasmani dan rokhani yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dan masing-masing unsur memiliki dharmanya sendiri : (c) manusia akan mengalami hidup dunia dan akherat dan : (d) manusia merupakan bagian dari masyarakat/ bangsanya.

Monopluralistik adalah paham yang mengakui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai unsur beraneka ragam, namu semuanya terikat menjadi satu kesatuan. Keselarasan adalah keadaan yang menggambarkan suasana yang tertib, teratur, aman, damai sehingga akan ketentraman lahir dan batin. Hal ini terwujud apabila masing-masing melaksanakan tugas sesuai dharmanya.

Keserasian adalah keadaan yang menggambarkan terpadunya unsur-unsur yang terlibat dalam kehidupan bersamaKeseimbangan adalah keadaan yang menggambarkan bahwa masing-masing unsur yang terlibat dalam hidup bersama dalam hubungan bersama, diperlakukan sepatutnya. Masing-masing mendapat perlakuan sesuai dengan kodrat, harkat, martabat, tugas, hak dan kewajiban, sehingga tercipta suatu suasana keadilan. Paham Integralistik yang dianut bangsa Indonesia bersumber dari pemikiran Prof. Mr. Soepomo. Menurut aliran pikiran integralistik Prof. Mr. Soepomo : (a) negara adalah

tidak untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan akan tetapi menjaminmasyarakat seluruhnya ; (b) negara dalah suatu masyarakat yang integral ; (c) negara tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat atau yang paling besar , akan tetapi negara menjamin keselamatan hidup bangsa seluruhnya. Cara berpikir integralistik berpandangan bahwa : (a) kebahagiaan yang saya dapat saya capai dengan  memberikan kemungkinan pada orang lain untuk mencapai kebahagiaan juga : (b) survival hanya mungkin juga di perjuangkan tidak untuk kepentingan individu saja, melainkan untuk semua orang : (c) kesejahteraan yang tidak merata adalah kesejahteraan yang terancam punah.

F. Membangun wawasan kebangsaan Indonesia pada setiap diri anak bangsa

Dengan ciri :

a. Adanya rasa ikatan yang kokoh dalam satu kesatuandan kebersamaan diantara esama

anggota masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

b. Saling membantu antara sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan cita-cita

bersama.

c. Tidak membangun primodialisme dan eksklusifisme.

d. Membangun kebersamaan.

e. Mengembangkan sikap berpikir dan berperilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat

berbangsa dan bernegara.

G. Wawasan kebangsaan untuk menghadapi perang modern

Reformasi nasional memiliki korelasi yang kuat dengan globalisasi, indikasi yang bisa kita

lihat adalah munculnya tuntutan reformasi untuk menerapkan isu global di Indonesia

seperti:

Proses demokratisasi Penerapan hak asasi manusia Pelestarian lingkungan hidup Negara negara pencipta isu global itu adalah pihak pemenang perang dingin yang juga pemenang perang-perang sebelumnya, yang berbasis Liberalisme dan naluri mereka yang Imperialisme dan kolonialisme.

Perang modern adalah masalah eksternal yang mempengaruhi beberapa masalah internal negara sasaran. Oleh karena itu perlu memahami perkembangan lingkungan strategis yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara Indonesia.

Read Full Post »

bohong

Tujuan orang berbohong adalah kalau bukan demi mencari simpatik dari seseorang, tentulah demi melindungi keselamatan sendiri.

Bila kau sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap seseorang, maka tak ada alasan

bagimu untuk berbohong,

Read Full Post »

daun bluntas

Daun Beluntas Sebagai Bahan Antibakteri dan Antioksidan

Daun beluntas menurut hasil penelitian mempunyai fungsi antibakteri dan antioksidan serta berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengawet makanan dan obat.

Beluntas (Pluchea indica L.), nama tumbuhan ini mungkin jarang kita dengar. Tapi, sebetulnya bentuk tanaman ini tidak seasing namanya. Jika kita perhatikan dengan seksama, hampir dapat dipastikan orang akan langsung mengenalnya sebagai tanaman yang sering terdapat di halaman rumah, karena sering digunakan sebagai tanaman pagar.

Beluntas merupakan tanaman perdu tegak, berkayu, bercabang banyak, dengan tinggi bisa mencapai dua meter. Daun tunggal, bulat bentuk telur, ujung runcing, berbulu halus, daun muda berwarna hijau kekuningan dan setelah tua berwarna hijau pucat serta panjang daun 3,8-6,4 cm. Tumbuh liar di tanah dengan kelembaban tinggi; di beberapa tempat di wilayah Jawa Barat tanaman ini digunakan sebagai tanaman pagar dan pembatas antar guludan di perkebunan. Beberapa daerah di Indonesia menyebut nama beluntas dengan nama yang berbeda seperti baluntas (Madura), Luntas (Jawa Tengah), dan Lamutasa (Makasar).

Secara tradisional daun beluntas digunakan sebagai obat untuk menghilangkan bau badan, obat turun panas, obat batuk, dan obat diare. Daun beluntas yang telah direbus sangat baik untuk mengobati sakit kulit. Disamping itu daun beluntas juga sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lalapan.

Adanya informasi secara tradisional dari masyarakat yang telah lama memanfaatkan daun beluntas sebagai salah satu tanaman obat mendorong para peneliti untuk mengadakan berbagai penelitian guna membuktikan khasiatnya secara ilmiah. Pada tulisan ini akan dicoba pemaparan dua penelitian pemanfatan daun beluntas dalam bentuk ekstrak sebagai komponen antibakteri (Ardiansyah, 2002) dan minyak atsiri sebagai zat antioksidan (Paini Sri Widyawati 2005).

Daun beluntas sebagai ekstrak antibakteri

Untuk mendapatkan ekstrak daun beluntas harus dikeringkan, selanjutnya dilakukan ekstraksi. Ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut heksan, residu yang dihasilkan diekstrak kembali dengan pelarut etanol untuk mendapatkan ekstrak polar defatted dengan metode refluk. Selain itu dilakukan ekstraksi langsung menggunakan pelarut etanol untuk mendapatkan ekstrak polar non defatted menggunakan metode yang sama Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan terhadap bakteri-bakteri dari kelompok patogen penyebab keracunan makanan sepertiEscherichia coli, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Selain itu E. coli merupakan bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan, sedangkan S. aureus merupakan bakteri penyebab impetigo (pembengkakan pada lapisan epidermis kulit), furuncle (radang di jaringan sub kutan), dan carbuncle (peradangan yang meluas dan mengenai folikel rambut). Dari kelompok bakteri penyebab kebusukan makanan adalahPseudomonas fluorescens. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumur; adanya zona bening disekitar sumur menunjukkan aktivitas antibakteri. Davis Stout mengemukakan bahwa ketentuan kekuatan antibakteri adalah sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm atau lebih berarti sangat kuat, daerah hambatan 10 – 20 mm (kuat), 5 -10 mm (sedang), dan daerah hambatan 5 mm atau kurang (lemah).

Tabel 1. Aktivitas antimikroba ekstrak daun beluntas*
Bakteri ( Ekstrak Nondefatted ) ( Ekstrak Defatted )
Escherichia coli ( 8,5 +/- 0.5 ) ( 7,0 +/- 0.4 )
Salmonella typhi ( 10,2 +/- 0.4 ) ( 8,2 +/- 0.5 )
Staphylococcus aureus ( 9,1 +/- 1.0 ) ( 7,1 +/- 0.6 )
Bacillus cereus ( 8,4 +/- 0.7 ) ( 6,5 +/- 0.3 )
Pseudomonas fluorescen ( 6,3 +/- 0.3 ) ( 5.5+/- 0.3 )

* mean +/- SE

Pada Tabel di atas terlihat bahwa ekstrak nondefatted menunjukkan aktivitas penghambatan lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak defatted. Jika data pada tabel dikaitkan dengan ketentuan kekuatan antibakteri yang dikemukakan oleh Stout, maka kekuatan antibakteri yang terkandung dalam ekstrak daun beluntas masuk dalam kategori “sedang” (masuk dalam kisaran 5-10 mm). Meskipun kekuatan antibakteri dalam kategori sedang, dapat dipahami bila daun beluntas berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit yang diakibatkan infeksi bakteri.

Daun beluntas sebagai zat antioksidan

Penelitian yang dilakukan oleh Paini Sri Widyawati (2005) mencoba meneliti aktivitas antioksidan dari daun beluntas. Daun beluntas diekstrak menggunakan etanol dengan metode soxhlet dan air pada metode hidrodistilasi. Selanjutnya masing-masing ekstrak, baik dari metode soxhlet maupun hidrodistilasi diuji kemampuan radical scavenging activityDPPH (2,2-diphenil-1- picrylhydrazil radical), yaitu antioksidan dalam ekstrak dan minyak atsiri daun beluntas akan bereaksi DPPH dan mengubahnya menjadi alfa,alfa-diphenyl-beta-picrylhydrazine. Perubahan serapan yang dihasilkan oleh reaksi ini menjadi ukuran kemampuan antioksidan dari daun beluntas. Sebagai pembanding digunakan TBHQ (tertier butil hidroquinon) dan υ-karoten yang secara umum telah digunakan sebagai aktioksidan komersial.

Hasil yang diperoleh menunjukkan kemampuannya secara berturutan sebagai berikut beta-karoten > minyak atsiri beluntas > ekstrak beluntas > TBHQ. Dari data ini dapat dikatakan bahwa daun beluntas memiliki potensi sebagai antioksidan alami dan dapat menggantikan kedudukan TBHQ dan beta-karoten sebagai antioksidan.

Potensi aplikasi daun beluntas sebagai pengawet makanan dan obat

Penggunanan senyawa antimikroba/antibakteri yang berfungsi sebagai bahan pengawet, juga antioksidan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi sehingga mencegah produk makanan dari kerusakan karena terpapar oleh udara dan cahaya, selama ini sebagian besar berasal dari bahan-bahan kimia sintetik. Berdasarkan penelitian bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan. Sebagai alternatif pemecahannya dapat digunakan bahan-bahan alami yang mempunyai kelebihan karena lebih aman untuk dikonsumsi.

Dari data-data seperti disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa daun beluntas mempunyai potensi unutk dikembangkan sebagai ekstrak yang berfungsi sebagai pengawet makanan, karena kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri penyebab keracunan makanan dan bakteri penyebab kerusakan makanan. Disamping itu juga kemampuannya sebagai radical scavenging activity dapat digunakan sebagai senyawa antioksidan.

Selain itu juga potensi daun beluntas dapat digunakan juga sebagai obat radang (inflamasi) dan obat diare karena kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan bakteri S.

Read Full Post »